Jumat, 27 Juni 2014

Sejarah Telur Asin Brebes, Makanan Eksklusif `Orang Jakarta`

  • Peristiwa
  • 0
  • 07 Agu 2013 01:22
Kota Brebes, bila melewatinya dalam perjalanan mudik, disarankan untuk membeli telur asin di sana. Sebab, selain merupakan makanan khas kota itu, telur asin di Brebes juga punya memiliki sejarah.

Konon, telur asin itu pertama kali diperkenalkan suami istri asal negeri bambu, China, In Tjiauw Seng dan Tan Polan Nio sekitar 1950. Pada awalnya telur asin menjadi makanan yang eksklusif, karena pasangan suami istri itu memasarkan telur asin ke Jakarta. Mereka memproduksi secara terbatas dan menjadikan telur asin yang gurih dan lezat dikemas sebagai salah satu hidangan istimewa.

"Menjamurnya telur asin di Brebes terjadi setelah pegawai suami istri tersebut berhenti kerja dan memulai usahanya sendiri," kata Agus Rianto, penjaga gerai Telor Asin Brebes Akbar Jaya kepada Liputan6.com, di Jalan Bangsri, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (6/8/2013).

Selain sejarah singkat tentang telur asin, Agus juga menceritakan sedikit proses pembuatan makanan tersebut. Pertama-tama, telur yang akan diasinkan haruslah telur pangon. "Telornya itu telor bebek yang pangon. Pangon itu artinya alami, jadi bukan telur bebek ternakan tapi bebek liar," ujarnya.

Kemudian, telur bebek pangon itu dicuci lebih dulu dan dipisah antara yang retak dan yang tidak retak. "Baru diasinkan dengan cara direbus. Untuk proses perebusan ini memakan waktu 12-15 hari," papar Agus.

Selain diasinkan dengan cara direbus, telur asin juga dapat disajikan setelah dibakar asap atau diasapi. Agus mengaku banyak pelanggan yang lebih gemar membeli telur asin yang diasapi. Waktu pengasapan pun 3 sampai 4 jam. Setelah diasapi, maka telur asin yang biasanya berwarna hijau akan berubah menjadi warna hitam.

"Yang bakar itu lebih kenyal karena kadar air di dalam telur sudah berkurang," ungkap Agus.

Untuk 1 butir telur asin rebus, Agus menjualnya dengan harga Rp 3.500. Untuk telur asin bakar, harga yang harus dikeluarkan pembeli sebesar Rp 3.800. Tertarik membeli kuliner khas Brebes ini? (Ein) (Ein
- See more at: http://news.liputan6.com/read/660006/sejarah-telur-asin-brebes-makanan-eksklusif-orang-jakarta#sthash.fXjVYZqW.dpuf

Sabtu, 07 Juni 2014

Masjid Agung Brebes


Bupati Dan Wakil Bupati Kota Brebes


Batas Wilayah Kota Brebes


Enggon geografis : 108° 41'37,7" - 109° 11'28,92" Bujur wetan karo 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48" Lintang kidul.
Bates Wilayah : Sisi lor berbatesan karo laut Jawa, sisi kidul berbatesan karo Kabupaten Banyumas, sisi kulon berbatesan karoKabupaten Cirebon (Jawa Kulon), sisi wetan karo Kabupaten Tegal lan Kota TegalBasa sing dituturna penduduk kabupatenkiye yakuwe basa Banyumasan logat/dialek Tegalan karo basa Sunda khususe sing ana ning kecamatan Bantarkawung, Salem karo Banjarharjo, basa Sundane mirip Basa Sundane wong Banten.

Kamis, 05 Juni 2014

Kesenian Tari Topeng Sinok


Tari Topeng Sinok adalah salah satu seni tari khas asal Brebes yang diciptakan oleh Suparyanto dari Dewan Kesenian Kabupaten Brebes yang menggambarkan perempuan yang cantik, luwes dan treingginas.


Tari Topeng Sinok Brebes.jpg

Tarian Topeng Sinok, menceritakan tentang perempuan Brebes, yang pada umumnya mereka merupakan adalah wanita pekerja keras. Kecantikan, keluwesan, dan kenggunannya tak mengurangi kecintaan mereka pada alam dan pekerjaannya sebagai petani. Tari yang merupakan paduan bentuk seni CirebonBanyumas dan Surakarta tersebut, seolah hendak mengatakan bahwa perempuan daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat ini bukanlah pribadi yang manja, cengeng, dan malas.
Topeng Sinok ini diproyeksikan untuk menjadi tarian khas yang nantinya akan dipromosikan dan diajarkan ke sekolah-sekolah dan dijadikan pelajaran muatan lokal di Kabupaten Brebes.

Selasa, 03 Juni 2014

Perekonomia di desa Kec. wanasari


Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai Petani, buruh tani, Nelayan, peternak itik / bebek, Pedagang sektor jasa transportasi , serta Pegawai Negri.
Produk unggulan dari pertanian adalah Bawang merahyang memasok kebutuhan daerah maupun nasional, dan mempunyai pasar khusus bawang merah di desa Klampok.
Dibagian utara tepatnya di pesisir Pantai, terdapat sentra budidaya ikan tambak seperti Bandeng udang, teri, mujair dan lainnya. Disekitar daerah pantai saat ini juga berkembang budidaya penanaman Rumput Laut
Kecamatan Wanasari juga merupakan sentra ternak bebek / itik yang menghasilkan produksi telur yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan telur asin khas Brebes yang sudah dikenal secara nasional
Pusat penjualan Telut Asin asli khas Brebes serta makanan khas lainnya yang menjadi tempat yang paling banyak dituju, terutama bagi para pengendara bermotor yang melintasi jalur pantura dapat ditemukan di kios-kios desa Pebatan dan Pesantunan di sepanjang Jalan P. Diponegoro ,yang terletak di sebelah barat sungai Pemali, tidak jauh dari pusat kota Brebes.
Pusat perekonomiannya terdapat di sepanjang jalur Pantura yang membentang dari jalan raya Klampok hingga sebagian jalan P. Diponegoro sebelah barat jembatan Sungai Pemali sebelum masuk kota Brebes. Di kawasan ini terdapat aktivitas warga seperti pasar, pertokoan, rumah sakit, SPBU,perbengkelan serta showroom motor.

Sejarah Nama Brebes


Ada beberapa pendapat mengenai asal - usul nama Brebes yang di antaranya berasal dari kata di antaranya Brebes berasal dari kata "Bara" dan "Basah", bara berarti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang merupakan dataran luas yang berair.Karena perkataan bara di ucapkan bere sedangkan basah di ucapkan besah maka untuk mudahnya di ucapkan Brebes. Dalam Bahasa Jawa perkataan Brebes ataumrebes berarti tansah metu banyune yang berarti selalu keluar airnya.
Nama Brebes muncul sejak zaman Mataram.Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya seperti Pekalongan, Pemalang, dan TegalBrebes pada saat itu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tegal.
Pada tanggal 17 Januari 1678 di Jepara diadakan pertemuan Adipati Kerajaan Mataram se Jawa Tengah, termasuk Arya Martalaya, Adipati Tegal dan Arya Martapura, Adipati Jepara. Karena tidak setuju dengan acara penandatanganan naskah kerjasama antara Amangkurat Admiral dengan Belanda terutama dalam menumpas pemberontakan Trunajaya dengan imbalan tanah-tanah milik Kerajaan  Mataram,
maka terjadi perang tanding antara kedua adipati tersebut. Peristiwa berdarah ini merupakan awal mula terjadinya Kabupaten Brebes dengan Bupati berwenang .Sehari setelah peristiwa berdarah tersebut yaitu tanggal 18 Januari 1678, Sri Amangkurat II yang berada di Jepara mengangkat beberapa Adipati/ Bupati sebagai pengagganti Adipati-adipati yang gugur. Untuk kabupaten Brebes di jadikan kabupaten mandiri dengan adipati Arya Suralayayang merupakan adik dari Arya Martalaya. Pengangkatan Arya Suralaya sekaligus titimangsa pemecahan Kadipaten Tegal menjadi dua bagian yaitu Timur tetap di sebut Kadipaten Tegal dan bagian barat di sebut Kabupaten Brebes.