Sabtu, 07 Juni 2014
Batas Wilayah Kota Brebes
Enggon geografis : 108° 41'37,7" - 109° 11'28,92" Bujur wetan karo 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48" Lintang kidul.
Bates Wilayah : Sisi lor berbatesan karo laut Jawa, sisi kidul berbatesan karo Kabupaten Banyumas, sisi kulon berbatesan karoKabupaten Cirebon (Jawa Kulon), sisi wetan karo Kabupaten Tegal lan Kota Tegal. Basa sing dituturna penduduk kabupatenkiye yakuwe basa Banyumasan logat/dialek Tegalan karo basa Sunda khususe sing ana ning kecamatan Bantarkawung, Salem karo Banjarharjo, basa Sundane mirip Basa Sundane wong Banten.
Kamis, 05 Juni 2014
Kesenian Tari Topeng Sinok
Tari Topeng Sinok adalah salah satu seni tari khas asal Brebes yang diciptakan oleh Suparyanto dari Dewan Kesenian Kabupaten Brebes yang menggambarkan perempuan yang cantik, luwes dan treingginas.
Tari Topeng Sinok Brebes.jpg
Tarian Topeng Sinok, menceritakan tentang perempuan Brebes, yang pada umumnya mereka merupakan adalah wanita pekerja keras. Kecantikan, keluwesan, dan kenggunannya tak mengurangi kecintaan mereka pada alam dan pekerjaannya sebagai petani. Tari yang merupakan paduan bentuk seni Cirebon, Banyumas dan Surakarta tersebut, seolah hendak mengatakan bahwa perempuan daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat ini bukanlah pribadi yang manja, cengeng, dan malas.
Topeng Sinok ini diproyeksikan untuk menjadi tarian khas yang nantinya akan dipromosikan dan diajarkan ke sekolah-sekolah dan dijadikan pelajaran muatan lokal di Kabupaten Brebes.
Selasa, 03 Juni 2014
Perekonomia di desa Kec. wanasari
Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai Petani, buruh tani, Nelayan, peternak itik / bebek, Pedagang sektor jasa transportasi , serta Pegawai Negri.
Produk unggulan dari pertanian adalah Bawang merahyang memasok kebutuhan daerah maupun nasional, dan mempunyai pasar khusus bawang merah di desa Klampok.
Dibagian utara tepatnya di pesisir Pantai, terdapat sentra budidaya ikan tambak seperti Bandeng udang, teri, mujair dan lainnya. Disekitar daerah pantai saat ini juga berkembang budidaya penanaman Rumput Laut
Kecamatan Wanasari juga merupakan sentra ternak bebek / itik yang menghasilkan produksi telur yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan telur asin khas Brebes yang sudah dikenal secara nasional
Pusat penjualan Telut Asin asli khas Brebes serta makanan khas lainnya yang menjadi tempat yang paling banyak dituju, terutama bagi para pengendara bermotor yang melintasi jalur pantura dapat ditemukan di kios-kios desa Pebatan dan Pesantunan di sepanjang Jalan P. Diponegoro ,yang terletak di sebelah barat sungai Pemali, tidak jauh dari pusat kota Brebes.
Pusat perekonomiannya terdapat di sepanjang jalur Pantura yang membentang dari jalan raya Klampok hingga sebagian jalan P. Diponegoro sebelah barat jembatan Sungai Pemali sebelum masuk kota Brebes. Di kawasan ini terdapat aktivitas warga seperti pasar, pertokoan, rumah sakit, SPBU,perbengkelan serta showroom motor.
Sejarah Nama Brebes
Ada beberapa pendapat mengenai asal - usul nama Brebes yang di antaranya berasal dari kata di antaranya Brebes berasal dari kata "Bara" dan "Basah", bara berarti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang merupakan dataran luas yang berair.Karena perkataan bara di ucapkan bere sedangkan basah di ucapkan besah maka untuk mudahnya di ucapkan Brebes. Dalam Bahasa Jawa perkataan Brebes ataumrebes berarti tansah metu banyune yang berarti selalu keluar airnya.
Nama Brebes muncul sejak zaman Mataram.Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya seperti Pekalongan, Pemalang, dan TegalBrebes pada saat itu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tegal.
Pada tanggal 17 Januari 1678 di Jepara diadakan pertemuan Adipati Kerajaan Mataram se Jawa Tengah, termasuk Arya Martalaya, Adipati Tegal dan Arya Martapura, Adipati Jepara. Karena tidak setuju dengan acara penandatanganan naskah kerjasama antara Amangkurat Admiral dengan Belanda terutama dalam menumpas pemberontakan Trunajaya dengan imbalan tanah-tanah milik Kerajaan Mataram,
maka terjadi perang tanding antara kedua adipati tersebut. Peristiwa berdarah ini merupakan awal mula terjadinya Kabupaten Brebes dengan Bupati berwenang .Sehari setelah peristiwa berdarah tersebut yaitu tanggal 18 Januari 1678, Sri Amangkurat II yang berada di Jepara mengangkat beberapa Adipati/ Bupati sebagai pengagganti Adipati-adipati yang gugur. Untuk kabupaten Brebes di jadikan kabupaten mandiri dengan adipati Arya Suralayayang merupakan adik dari Arya Martalaya. Pengangkatan Arya Suralaya sekaligus titimangsa pemecahan Kadipaten Tegal menjadi dua bagian yaitu Timur tetap di sebut Kadipaten Tegal dan bagian barat di sebut Kabupaten Brebes.
Senin, 02 Juni 2014
Kerajinan Batik Salem
Salah satu kerajinan khas dari Brebes adalah batik salem. Pernah dengar? Iya, memang yang paling banyak dikenal dari Brebes hanya telur asin dan bawang merah. Tapi seharusnya batik salem pun dilestarikan keberadaannya.
Salem adalah salah satu bagian dari daerah di Kabupaten Brebes yang letaknya sangat ujung dan agak jauh dengan Brebes kota, sehingga untuk mencapai kesana, selain pakai mobil, pasti capek.
Saat ini pembuatan batik salem masih banyak menggunakan tangan, namun beberapa pengusaha batik sudah beralih secara industrial. Macam motif batiknya sendiri ada 20 macam. Diantaranya motif kopi pecah, manggar dan ukel dengan ciri khas warna hitam dan putih. Minggu depan Insha Allah saya akan ke Salem, nanti saya liput lebih dalam lagi tentang batik salam. Caw!
Minggu, 01 Juni 2014
Cerita Gunung Slamet
Kawah Gunung Slamet. (Ist)
Sindonews.com - Gunung Slamet yang terletak di perbatasan Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas dan Purbalingga itu kembali menggeliat setelah lama tertidur sejak Mei 2009 lalu.
Kemarin, Gunung berketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini naik statusnya dari Normal menjadi Waspada. Warga di sekitar radius dua kilometer-pun diimbau untuk tidak melakukan aktivitas.
Bercerita tentang gunung, selalu ada mitos dan cerita rakyat yang berkembang. Tak ubahnya Gunung Slamet, gunung yang masuk di posisi kedua tertinggi di Indonesia setelah Gunung Semeru itu juga memiliki cerita sendiri.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat yang dihimpun Sindonews, Gunung Slamet pertama kali diberi nama oleh Syeh Maulana Maghribi, seorang penyebar agama Islam yang berasal dari negeri Rum-Turki. Di sana, dia merupakan seorang pangeran.
Suatu hari, setelah melaksanakan ibadah salat Subuh, Syeh Maulana melihat cahaya misterus yang menjulang tinggi di angkasa. Sang Pangeran itu merasa tertarik dan ingin mengetahui sumber cahaya misterius itu.
Beliau-pun memutuskan untuk menyelidikinya sembari menyebarkan agama Islam dengan ditemani pengikutnya yang sangat setia, bernama Haji Datuk, serta ratusan pengawal kerajaan. Mereka berlayar menuju ke arah sumber cahaya misterius.
Namun, ketika kapal yang ditumpanginya tiba di pantai Gresik, Jawa Timur, tiba-tiba cahaya tersebut muncul kembali di sebelah barat. Dia pun memutuskan untuk ke arah barat hingga sampai di pantai Pemalang, Jawa Tengah.
Di pantai Pemalang, Syeh Maulana menyuruh hulu balangnya untuk pulang ke Turki. Sementara beliau melanjutkan perjalanannya dengan ditemani Haji Datuk dengan berjalan kaki ke arah selatan sambil menyebarkan agama Islam.
Ketika cahaya tersebut melewati daerah Banjar, tiba-tiba beliau menderita sakit gatal di sekujur tubuhnya dan penyakit gatalnya itu pun sulit disembuhkan.
Suatu malam, setelah menjalankan salat tahajjud, Syeh Maulana mendapat ilham jika beliau harus pergi ke Gunung Gora. Setibanya di lereng Gunung Gora, beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya sendiri dan menunggu di suatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap. Ternyata di situ ada sumber air panas yang mempunyai tujuh buah pancuran. Syeh Maulana memutuskan tinggal di sana untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas yang memiliki tujuh buah mata air.
Berkat kemanjuran air panas itu, akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh total. Kemudian Syeh Maulana memberi nama tempat ini menjadi Pancuran Tujuh.
Penduduk sekitar menyebut Syeh Maulana dengan nama Mbah Atas Angin karena datang dari negeri yang jauh. Kemudian Syeh Maulana Maghribi memberi gelar kepada Haji Datuk dengan sebutan Rusuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur Kang Adi (Abdi yang setia).
Sementara desa itu kemudian dikenal dengan sebutan Baturadi yang lama kelamaan menjadi Baturaden yang dalam penulisannya menggunakan satu "R" yaitu: Baturaden. Karena Syeh Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng Gunung Gora maka beliau mengganti nama menjadi Gunung Slamet.
Langganan:
Postingan (Atom)

